,

7 Kisah Heroik Anak Kecil yang Merubah Kejamnya Dunia

Usia memang tak menjadi tolak ukur kemampuan dan keberanian seseorang. Hal ini terbukti dengan adanya 7 kisah heroik anak kecil yang merubah kejamnya dunia .Aksi heroik mereka sungguh menyentuh hati kita, karena untuk merubah dunia mereka harus mempertaruhkan nyawa mereka di usia yang masih sangat muda untuk maut dan kematian.

Semoga kisah mereka dapat menjadi inspirasi dan motivasi agar lebih menumbuhkan kepekaan sosial bagi kita semua tanpa terkecuali, tanpa memandang batasan usia, status sosial maupun perbedaan gender.

1. Malala Yousafzai

Kelompok pemberontak Taliban menjulukinya sebagai gadis kecil pembangkang tradisi. Dia adalah Malala Yousafzai, yang berjuang untuk kaum perempuan Lembah Swat, Pakistan agar bisa mendapatkan hak pendidikan dan melawan penindasan anak-anak kecil.

Saat ia masih berusia 11 tahun, Malala Yousafzai sudah berani menentang pemerintahan ditaktor Taliban. Melalui tulisan pribadinya di BBC, ia menceritakan secara detail tentang kejamnya pemerintahan dibawah penguasa Taliban.

kisah heroik anak kecil

Dan aksi beraninya tak sampai disitu, saat diundang stasiun Televisi ia menantang kelompok Taliban dengan luapan kemarahannya, karena telah merampas hak-hak kaum perempuan untuk mendapatkan pendidikan.

Tragisnya, saat berada di dalam bus sekolah, ia nyaris tewas dibunuh kelompok Taliban. Bagian kepala dan lehernya tertembak. Untungnya ia berhasil diselamatkan setelah mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Birmingham, Inggris.

Atas keberaniannya dalam memperjuangkan hak-hak pendidikan bagi kaum perempuan di seluruh Pakistan, Malala Yousafzai mendapatkan penghargaan Nobel Perdamaian di tahun 2014.

2. Anne Frank

Anne Frank adalah gadis Yahudi kelahiran Jerman yang menjadi simbol pengharapan anak-anak kecil tak bersalah yang terpaksa menjadi korban kejamnya genosida kaum Yahudi. Selama 2 tahun ia dan keluarganya bersembunyi dibalik loteng rahasia gedung dari kejaran tentara Nazi.

Dalam persembunyian tersebut, Anne sempat menulis buku harian berjudul The Diary of Young Girl, tentang arti kebahagiaan anak kecil saat memandang pohon  yang berada tepat di jendela gedung tempat ia dan keluarganya tinggal.

Ia memiliki harapan yang tak pernah terwujud dalam hidupnya, agar dirinya bisa selalu memandang pohon tersebut sambil menikmati udara segar ketika ia terbangun di pagi hari.

Namun tragis, ia pun akhirnya tertangkap karena dikhianati tetangganya dan dibawa ke kamp konsentrasi untuk dibantai oleh tentara Nazi. Hanya sang ayah yang berhasil melarikan diri dari sergapan tentara Nazi.

Setelah runtuhnya kekuasaan ditaktor Adolf Hitler, buku diary Anne Frank ditemukan kembali oleh ayahnya, kemudian ia mempublikasikannya. Buku harian tersebut menjadi terkenal karena telah membuka mata dunia, sebagai saksi bisu kekejaman holocaust, pembantaian massal lebih dari 6 juta kaum yahudi.

3. Nkosi Johnson

Masa kecil setiap orang tak selalu indah seperti yang dialami oleh bocah bernama Nkosi Johnson, penderita HIV/AIDS. Lahir dari ibu yang menderita penyakit tersebut membuatnya juga mengidap penyakit yang sama. Bukan hanya harus menanggung penyakit mematikan seumur hidup saja, berbagai ketidakadilan pun dirasakannya seperti tidak diterimanya Johnson untuk bersekolah.

Dari rasa ketidakadilan yang dirasakannya, ia kemudian menjadi wakil para penderita HIV/AIDS untuk membantu meningkatkan kesadaran dan memperjuangkan hak bagi penderita HIV/AIDS termasuk hak untuk bersekolah dan bekerja.

Sebelum ia meninggal pada usia 12 tahun, ia telah berhasil mendirikan beberapa tempat penampungan bagi para penderita HIV/AIDS secara cuma-cuma alias gratis.

Dan melalui yayasan Nkosi’s Haven miliknya, ia mendapatkan penghargaan dari KidsRights Foundation dan International Children’s Peace Prize dari Mikhail Gorbachev, presiden Uni Soviet.

Tepat di usianya yang ke 12 tahun pada tanggal 1 Juni 2001, Nkosi Johnson meninggal dunia dan Presiden Nelson Mandela memberikan penghormatan tertinggi kepadanya dengan memberikan gelar sebagai Ikon Perjuangan Hidup.

4. Adele Ann Taylor

Adele Ann Taylor, gadis kecil ini telah membantu setidaknya 25.000 orang dalam meningkatkan kemampuan membaca mereka. Membantu meningkatkan kemampuan membaca mungkin terdengar sederhana, namun selama ini sudahkan kita mampu melakukannya?

Begitu mulianya tindakan gadis 13 tahun bernama Adele ini yang bermula dari kepekaan Adele mengetahui teman-temannya yang masih banyak bermasalah dalam hal membaca. Kemudian ia mendirikan organisasi non-profit bernama Adele’s Literacy Library (ALL).

Bukan hanya mengajar membaca tulis, namun ALL juga telah mampu membiayai beasiswa tingkat SMA dan menyumbangkan buku-buku serta membantu pembangunan untuk beberapa sekolah.

5. Yash Gupta

Yash Gupta adalah seorang anak 14 tahun yang menyadari bahwa banyak anak-anak di dunia yang bermasalah dengan mata mereka namun tak memiliki uang untuk membeli kacamata. Kisah ini dimulai dari Yash Gupta yang mengalami kerusakan kacamatanya saat latihan taekwondo.

Ia harus menunggu kacamata barunya selama 1 minggu dan selama itu ia merasa tersiksa karena tidak dapat melakukan berbagai hal bahkan yang sederhana. Pengalaman itulah yang menyadarkannya bahwa masih banyak anak di luar sana yang nasibnya lebih buruk.

Akhirnya ia membuat organisasi bernama Sight Learning yaitu organisasi yang melakukan kegiatan mengumpulkan kacamata yang sudah tidak dipakai dari toko optik dan menyumbangkannya ke organisasi terkait. Lebih dari 9.500 kacamata berhasil disumbangkan oleh Yash Gupta kepada anak-anak di wilayah Hiti, Honduras, dan Meksiko.

6. Louis Braille

Mendengar istilah ‘huruf Braille’ apa yang terlintas dalam benakmu? Jika yang terlintas hanya huruf atau tulisan untuk orang buta maka  bukan hanya itu yang perlu diketahui. Dibalik adanya huruf tersebut ternyata tersimpan kisah heroik anak kecil yang merubah dunia yaitu dari anak berusia 5 tahunan asal Perancis bernama Louis Braille.

Ia mengalami kecelakaan di toko sepatu ayahnya, matanya tertusuk alat pelubang kecil pada umur 4 tahun dan menjadi buta. Namun siapa sangka justru setelah ia bersekolah di Royal Institution for Blind Youth, pada saat usianya 10 tahun Louis Braille mendapatkan beasiswa karena berhasil menciptakan huruf braile (tulisan sentuh) yang hingga saat ini sangat bermanfaat bagi para penderita tuna netra (orang buta) di seluruh dunia.

7. Iqbal Masih

Nasib tragis harus dirasakan oleh seorang bocah laki-laki asal Pakistan bernama Iqbal Masih. Ia dijual menjadi budak oleh orang tuanya sendiri pada usia sangat muda yaitu 4 tahun, agar bisa membelikan mas kawin kakaknya sebesar 600 rupee atau sekitar 120 ribu rupiah dimasa itu.

Setiap hari tanpa hari libur, Iqbal harus bekerja keras bangun subuh-subuh untuk memintal karpet sampai jumlah tanggungan hutang keluarganya lunas. Dan jangan bayangkan kalau dia sangat menikmati pekerjaannya, karena Iqbal harus bekerja 14 jam sehari dengan kaki terikat rantai bola besi agar ia tidak bisa melarikan diri.

Di usianya yang ke 10 tahun, Iqbal bersama budak anak-anak kecil lainnya melarikan diri dari rumah majikannya dan mereka sempat mengadu ke kantor polisi. Tapi sampai disana justru mereka dibawa kembali oleh Polisi kerumah majikannya.

Sampai suatu hari, Iqbal mencoba melarikan diri untuk kedua kalinya dan ia pun bergabung dengan Front Pembebasan Buruh Budak di Pakistan, sebuah organisasi yang memperjuangkan hak-hak buruh dan menghapus perbudakan anak kecil di seluruh dunia.

Setelah lama Iqbal bergabung dengan organisasi tersebut, ia berhasil memerdekakan lebih dari 3000 anak-anak kecil yang menjadi budak paksa di negara Pakistan. Tapi sayangnya, baru saja ia kembali dari Amerika Serikat sehabis memberikan pidato dan menjadi saksi perbudakan. Ia tewas ditembak tepat dibagian kepalanya pada tanggal 15 April 1995 dan meninggal dunia keesokan harinya.

aksi heroik anak kecil

Meski sampai kini pelaku pembunuhan Iqbal Masih belum terungkap, namun kuat dugaan pelaku penembakan misterius tersebut didalangi oleh kaum pengusaha kejam yang menentang pembebasan perbudakan anak kecil, yang hanya memikirkan keuntungan semata.

Namun sosok Iqbal Masih di mata dunia, akan selalu menjadi inspirasi dan motivator bagi para pembela HAM yang menentang perbudakan anak, kerja paksa, dan sistem kerja yang melanggar hak-hak kemanusiaan. Hanya satu kata ‘Salut’ yang pantas untuk kita berikan pada mereka, anak-anak kecil luar biasa yang demi merubah dunia, rela mempertaruhkan nyawa mereka sendiri.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tutup Usia, Mike Mohede Gagal Duet Dengan David Foster

Efek Samping ‘Peraturan Ganjil-Genap’ yang Bisa Menimpa Kamu