,

Alasan Tidak Boleh Lagi Memanggil "Cina"

Kebiasaan unik masyarakat Indonesia kerap kali menamakan sebuah hal dengan sebutan khas tertentu. Hal ini karena dilakukan secara turun temurun sehingga sebutannya pun sudah berkembang secara luas. Misalnya saja dengan adanya sebutan terhadap kelompok masyarakat yang berkulit putih dan bermata sipit dengan sebutan orang Cina.

Sebutan tersebut tentunya sudah sangat berkembang hampir di seluruh wilayah di Indonesia. Dengan mudahnya orang memanggil kelompok tersebut dengan sebutan orang Cina.

Hal ini kemudian berubah ketika Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan peraturan atau lebih tepatnya mencabut aturan tanggal 28 Juni 1967 yang berisi bahwa sebutan Tionghoa atau Tiongkok dirubah menjadi Cina. Dengan dicabutnya peraturan tersebut, maka konsekuensinya sebutan kata Cina dihapuskan dan diganti dengan Tiongkok kembali.

Jangan lagi panggil temanmu orang cina, tahu alasannya? Salah satunya adalah karena adanya pencabutan aturan penggunaan istilah “cina” yang sudah dijelaskan diatas.

Alasan selanjutnya adalah karena sebutan Cina dilakukan pada saat jaman orde baru ketika hubungan Indonesia dengan negara Cina memburuk, sehingga Indonesia mengambil keputusan untuk menyebut kalangan atau kelompok tersebut dengan sebutan orang Cina, hal ini juga bermaksud untuk merendahkan kelompok tersebut.

Istilah kata Cina adalah sebutan dengan latar belakang penghinaan atau juga merendahkan, misalnya seperti sebutan inlander untuk orang-orang pribumi pada masa kolonial belanda, atau juga niger untuk orang-orang afro-amerika.

Komunitas orang Tionghoa ini sebenarnya sudah berada di Indonesia sejak seribu tahun yang lalu. Komunitas ini menyebar hampir diseluruh wilayah di Indonesia.

Mereka pada awalnya datang ke Indonesia untuk alasan berdagang dan juga untuk mencari kehidupan yang baru karena pada saat itu Tiongkok sedang dalam keadaan banyak bencana dan juga perang saudara.

Mereka biasanya menamakan diri dengan sebutan Tenglang atau juga orang yang berasal dari dinasti tong. Komunitas ini kemudian membaur dengan orang Indonesia dan menikah dengan penduduk asli setempat.

Sehingga terjadi proses percampuran yang anaknya kemudian disebut dengan peranakan atau juga disebut sebagai hokkian. Pada saat tersebut bahasa mandarin atau bahasa asli dari Tiongkok belum dikenal oleh masyarakat Hindia Belanda. Sehingga orang Tiongkok mau tak mau harus menggunakan bahasa Indonesia.

alasan tidak boleh kata cina

Dan sejak abad ke tujuh belas hubungan komunitas ini dengan negara asalnya terputus. Orang belanda pada saat itu menyebut mereka dengan sebutan chinessen. Sedangkan masyarakat sekitar menyebut mereka dengan sebutan orang cina.

Diskriminasi terhadap etnis cina sebenarnya sudah terjadi sejak masa hindia belanda, dimana saat itu Pemerintah Belanda menghalalkan pembunuhan orang tionghoa. Tragedi pembantaian cina tersebut dikenal dengan nama Geger Pacinan atau tragedi angke.

Dan pada masa orde lama, pengejaran terhadap etnis cina pernah terjadi di tahun 1956 dengan alibi politik anti cina. Berlanjut ketika memasuki masa orde baru orang Cina sedikit mengalami masa kesulitan.

Pada saat itu orang Tiongkok, (sebutan cina sekarang) mengalami diskriminasi yang luar biasa. Dari pelarangan hak menduduki jabatan strategis di pemerintahan, sampai menjadi korban pemerasan oleh para preman, khususnya para pengusaha/pedagang keturunan cina.

Miris memang, tapi itulah kenyataannya. Jadi jangan heran kalau kita melihat orang cina banyak yang memiliki nama-nama jawa, padahal nama aslinya bukan. Mungkin cara itu terpaksa mereka lakukan, sejak dari zaman leluhur mereka agar lebih bisa ‘diterima’.

Dengan berakhirnya orde baru, dimulailah sesuatu yang baru bagi masyarakat Indonesia yang disebut sebagai era reformasi. Era ini pula yang menandai kehidupan baru bagi etnis Tiongkok yang berada di berbagai wilayah di Indonesia.

Tapi sayangnya, sebelumnya mereka harus menjadi tumbal dari runtuhnya dinasti orde baru, berbagai pelanggaran HAM menimpa mereka dan meninggalkan trauma berat bagi warga negara Indonesia keturunan Cina.

Dan kasus ini sampai sekarang belum menemukan titik terang siapakah orang yang menjadi sutradara dari dagelan mengerikan tersebut.

Dengan sebutan Tiongkok inilah menjadikan era baru bagi hubungan Indonesia dan RRT dan juga hubungan masyarakat asli Indonesia dengan etnis keturunan Tiongkok yang menyebar di berbagai wilayah di Indonesia.

Cobalah untuk memulai dari diri sendiri untuk menghargai orang yang berbeda dari kita. Berbagai alasan tidak boleh lagi memanggil temanmu dengan kata cina dapat kita jadikan sebagai satu alasan untuk lebih menghargai perbedaan dan tidak berlaku rasis.

Ingat tidak ada lagi sebutan orang Batak, orang Ambon, orang Padang, apalagi orang Cina karena kita semua adalah orang Indonesia 😀

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kumpulan meme 'dicubit guru murid lapor polisi' yang beredar di sosmed

10 Cerita Asli Film Walt Disney yang Sengaja Dirahasiakan Demi Kebaikan