,

Mengenang 4 Pahlawan Reformasi yang Gugur dalam Tragedi Trisakti

Masih ingatkah kamu dengan Tragedi Trisakti 98 yang sudah berjalan lebih dari 18 tahun, atau kamu masih kecil seperti saya :). Meskipun tinggal memoar, namun peristiwa berdarah itu seakan masih melekat dalam bayangan rakyat Indonesia. 
Sangat pantas rasanya jika kita selalu mengenang jasa-jasa para pahlawan reformasi, dimana ke 4 mahasiswa gugur dalam Tragedi Trisakti. Perjuangan mereka menjadi awal mula tonggak sejarah akan lengsernya kekuasaan rezim orde baru Presiden Soeharto yang sudah bertahan selama 32 tahun.
Di era tersebut, para mahasiswa seluruh Indonesia mendesak pemerintah kita agar segera memperbaiki krisis ekonomi finansial Asia dan politik yang sedang melanda Indonesia, serta menuntut kepemimpinan Soeharto mundur. Tapi apa yang terjadi, disaat mahasiswa menuntut aspirasi, mereka malahan dihadang oleh ratusan petugas Polisi dan TNI bersenjata lengkap. 
Miris, para mahasiswa yang sedang bergerak ke Gedung DPR/MPR dihadang oleh aparat. Insiden penembakan pun terjadi, para aparat memuntahkan peluru yang menyebabkan 4 mahasiswa Trisakti tewas seketika ditempat.

4 Pahlawan Reformasi yang Gugur dalam Tragedi Trisakti

Photo: Copyright @dibalik98
Siapa sajakah mereka? Nama-nama ke empat mahasiswa yang gugur demi reformasi tersebut bisa kamu simak dibawah ini. Sahabat kejadiananeh.com, mari kita mengenal 4 pahlawan mahasiswa di Tragedi Trisakti 1998.
1. Hafidin Royan, Mahasiswa Teknik Sipil yang jadi Korban Tragedi Trisakti
Tak ada yang menyangka jika hari itu menjadi hari pertemuan terakhir Hafidin Royan, remaja murah senyum yang lahir di Bandung pada 28 September 1976 lalu. Ia meninggal dan jadi korban tragedi Trisakti, sebuah peluru tajam menembus bagian kepalanya. 
Dan cita-citanya yang ingin menjadi seorang Sarjana Teknik Sipil, harus turut terkubur bersama tubuh kakunya. Sampai hari ini pun kamar mendiang Hafidin masih  terisi barang-barang miliknya dan tak pernah tersentuh oleh siapapun apalagi dipindahkan.
2. Elang Mulia Lesmana, Mahasiswa Arsitektur Trisakti
Wajahnya sangat rupawan dan ia terbilang masih sangat muda kala itu. Mahasiswa ganteng yang mengambil jurusan Arsitektur ini juga dikenal sangat cerdas. Namun pria kelahiran Jakarta 5 Juli 1978 yang masih berusia 19 tahun itu harus berakhir karena peluru tajam dari aparat telah menembus dadanya. 
Seketika jantungnya robek, bahkan botol parfum kesayangan yang ada di dalam tas milik Elang ikut pecah berhamburan. Saat peristiwa Tragedi Trisakti, Elang tak berhasil menyelamatkan diri ketika ratusan aparat gabungan dari TNI dan Polri menembaki massa mahasiswa yang hendak pergi ke arah jalur Senayan.
Pada malam sebelum Elang tewas, ia sempat berkumpul bersama teman-temannya untuk mengerjakan tugas kelompok. Dan keesokan harinya baru ia bergabung dengan mahasiswa lainnya untuk melakukan aksi demonstrasi.

pahlawan reformasi

Photo: Copyright kompasiana.com
3. Heri Hertanto, Mahasiswa Teknik Mesin Trisakti
Sosok pemuda Heri Hertanto dikenal bukan sebagai pegiat aktif dalam suatu gerakan di kampus Trisakti. Ini menurut keterangan sang Ibunda Lasmiyati bahwa anaknya Heri tak pernah sekalipun berbicara soal situasi dan kondisi politik Indonesia pada masa itu. 
Ia hanya tahu Heri selalu tekun belajar di Jurusan Teknik Mesin, adapun cita-citanya agar tercapai membuka wirausaha bengkel ditempatnya. 
Namun takdir kematian manusia tiada yang bisa menebak, segala sesuatu seolah sudah digariskan. Heri anak kesayangannya harus tewas di ujung senapan aparat, yang tak mengenal kata kompromi. Padahal sebelum insiden Trisakti itu meletus, Heri sempat diajak pulang oleh teman-temannya.

4. Hendriawan Sie, Mahasiswa Jurusan Ekonomi Trisakti
Adalah Hendriawan Sie, remaja kelahiran 3 Maret 1978 Balikpapan. Ia adalah mahasiswa Trisakti terakhir yang gugur menjadi pahlawan reformasi. Pada saat Tragedi Trisakti meletus ia tertembak peluru tajam dibagian leher, saat ia sedang berdiri dibalik pagar. Mirisnya posisi Hendriawan berada masih dalam lingkungan kampusnya sendiri. 

Photo: Copyright tribunnews.com
Kepergian Hendriawan membuat kedua orang tuanya Karsiah dan Hendrik Sie sangat terpukul, lantaran Hendriawan adalah anak semata wayang mereka. 
Dan menurut kesaksian teman-temannya, di detik-detik terakhir Hendriawan menghembuskan nafas terakhirnya. Ia masih sempat tersadar saat peluru menembus bagian lehernya. Ia pun sempat menyebut nama ibunya berulang kali, berharap sang Ibu datang untuk memeluknya.
Namun apa yang terjadi, Tuhan ternyata lebih menyayangi Hendriawan. Ia harus meninggal di usianya yang terbilang sangat muda ketika masih berusia 20 tahun. Miris mendengarnya, mereka sang Pahlawan Reformasi dibunuh karena Benar, namun api kebenaran itu tak kan pernah bisa padam dan kita semua adalah saksinya. Dan ingatlah! kebebasan bersuara, berpikir dan berpendapat yang bisa kita miliki saat ini adalah karena jasa-jasa mereka.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Detik-detik mengerikan 4 WNI saat disergap Abu Sayyaf

Kisah pria keliling Jakarta dengan kostum superhero demi anak-istri